Interpretasi Bagan Vosviewer Analisis Co-Occurrence

Oleh: Maryono

Interpretasi bagan VOSviewer untuk analisis Co-occurrence berfokus pada pemahaman visualisasi node (noktah), edge (lengan), warna, serta tiga mode visualisasi utama: network visualization, overlay visualization, dan density visualization. Node mewakili kata kunci / subyek, edge mewakili hubungan keterkaitan antar kata kunci / subyek, warna menunjukkan kelompok subyek / klaster atau tren, dan setiap mode visualisasi memberi perspektif berbeda terhadap data.

Elemen Visualisasi Utama

  • Warna klaster: Setiap warna merepresentasikan cluster topik penelitian. Misalnya, kata kunci dengan warna biru bisa mewakili tema kesehatan, sementara hijau bisa mewakili teknologi. Warna membantu membedakan kelompok topik yang saling berhubungan.
  • Ukuran noktah Node besar berarti kata kunci sering muncul (frekuensi tinggi). Node kecil berarti kata kunci jarang muncul. Ini menunjukkan dominasi topik dalam literatur.
  • Panjang lengan Panjang garis antar node menunjukkan kedekatan hubungan. Semakin pendek garis, semakin erat keterkaitan antar kata kunci.
  • Ketebalan lengan Garis tebal berarti hubungan antar kata kunci sangat kuat (sering muncul bersama). Garis tipis berarti hubungan lemah.

Tiga Mode Visualisasi

Jenis VisualisasiFungsi UtamaInterpretasi
Network VisualizationMenampilkan hubungan antar kata kunciNode besar = kata kunci dominan / sering muncul; Warna = cluster / kelompok subyek / kata kunci / topik; Garis / lengan = kedekatan hubungan, semakin pendek garis, semakin erat keterkaitan. Semakin tebal garis / lengan, keterkaitan antar kata kunci sangat kuat / sering muncul bersama
Overlay VisualizationMenunjukkan tren waktuWarna gradasi (biru → kuning) menunjukkan perkembangan topik dari lama ke baru
Density VisualizationMenunjukkan kepadatan topikArea kuning terang = topik padat/sering diteliti; area gelap = topik masih jarang diteliti

Bagan Vosviewer

Interpretasi Co-Occurrence

Bagan Vosviewer tersebut, dihasilkan dari data yang diekspor dalam format csv dari Scopus pada 23 Januari 2026, subyek “Digital Preservation”. Data dianalisis dan dibuatkan visualisasinya dengan Vosviewer, Create a map based on bibliographic data, Read data from bibliographic database files, sumber Scopus, Type op analysis – Co-occurrence, Unit of analysis – All keywords, Counting method – Full counting. Minimum number of Occurrence of a keyword 2, Number of keyword 53.

Warna pada peta menunjukkan kelompok atau klaster tematik yang terbentuk dari keterkaitan kata kunci.

  • Kuning menandai inti tema “digital preservation” sebagai pusat gravitasi konseptual.
  • Merah menggambarkan klaster institusional dan teknis seperti digitization, libraries, dan curation.
  • Hijau merepresentasikan dimensi pelestarian budaya dan lingkungan seperti heritage conservation dan climate change.
  • Biru menyoroti konteks geografis dan kesadaran publik (South Africa, awareness).
  • Ungu muda menunjukkan pendekatan metodologis seperti systematic review dan strategic planning.
  • Biru muda di kanan atas menandai entitas organisasi seperti digital preservation alliance. Setiap warna menandakan subtema yang saling berhubungan namun memiliki fokus riset berbeda.

Besar Kecilnya Noktah

Ukuran noktah (node) menunjukkan frekuensi kemunculan atau bobot keterhubungan suatu kata kunci dalam dataset. Noktah besar seperti digital preservation menandakan topik paling dominan dan sering muncul bersama kata lain. Noktah menengah seperti digital storage atau digitization menunjukkan subtema penting namun tidak seintens pusatnya. Noktah kecil seperti textures atau metaverse menandakan topik baru atau spesifik yang masih jarang dibahas, sering kali menjadi indikasi novelty atau peluang riset baru.

Panjang Pendek dan Tebal Tipisnya Lengan

Lengan (edge) menggambarkan kekuatan dan jarak hubungan antar kata kunci.

  • Lengan pendek dan tebal menandakan hubungan kuat dan sering muncul bersama, misalnya antara digital preservation dan digital repository.
  • Lengan panjang dan tipis menunjukkan hubungan lemah atau jarang terjadi, seperti antara digital preservation dan systematic review. Kepadatan dan arah lengan membantu memahami struktur jaringan pengetahuan, di mana klaster yang saling terhubung rapat menunjukkan bidang riset yang sudah mapan, sedangkan yang renggang menandakan area eksploratif.

Visualisasi Network

Visualisasi network menampilkan peta keterhubungan konseptual antar kata kunci. Node besar di tengah berfungsi sebagai pusat integrasi, sementara node di tepi menunjukkan subtema yang lebih spesifik. Keterhubungan antar klaster memperlihatkan bagaimana riset digital preservation menjembatani isu teknis (digitization), budaya (heritage), dan kebijakan (strategic planning). Struktur ini menunjukkan bahwa bidang digital preservation bersifat interdisipliner, menggabungkan teknologi informasi, manajemen arsip, dan pelestarian budaya.

Visualisasi Overlay

Overlay visualization menampilkan dimensi temporal atau evolusi riset, biasanya dengan gradasi warna dari biru (lama) ke kuning (baru). Jika diterapkan, area kuning menandakan topik yang sedang naik daun seperti metaverse atau digital curation. Warna kuning menunjukkan “emerging topics”.

Visualisasi Density

Density visualization menunjukkan kepadatan penelitian: area dengan warna lebih terang menandakan konsentrasi tinggi publikasi dan keterhubungan antar topik. Dalam konteks ini, pusat digital preservation akan tampak paling padat dan terang, menandakan dominasi literatur dan intensitas kolaborasi akademik di topik-topik tersebut.

Scopus AI

Oleh: Maryono

Scopus AI adalah fitur layanan berbasis AI dari Scopus yang mulai disediakan pada tahun 2024. Fungsi utamanya untuk membantu peneliti melakukan pencarian literatur secara lebih cerdas, lebih cepat, dan terstruktur. Manfaat terbesarnya adalah mempercepat proses eksplorasi dalam suatu topik riset tertentu, dan kemudian menyajikan ringkasan hasil pencarian dalam bentuk poin-poin, serta menampilkan studi landmark yang relevan. Untuk mahasiswa doktoral, Scopus AI sangat berguna dalam tahap awal systematic literature review(SLR) karena membantu menemukan tren, gap / novelty penelitian, dan arah topik riset dengan lebih efisien.

Bisa dikatakan bahwa Scopus AI adalah asisten penelitian berbasis AI yang terintegrasi dengan basis data Scopus – yang merupakan kumpulan jutaan artikel ilmiah terindeks dan tervalidasi (peer-reviewed). Berbeda dengan ChatGPT umum, Scopus AI hanya merujuk pada sumber-sumber terpercaya dari Scopus sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, dapat ditelusuri dan sedikit risiko halusinasi.

Fitur utama Scopus AI:

Memahami pertanyaan dalam bahasa alami (bisa menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris). Meringkas topik menjadi tinjauan terstruktur disertai konsep kunci. Menampilkan peta literatur (gambaran hubungan antarkonsep). Menyediakan daftar pustaka inti dengan tautan langsung ke artikel asli. Skor kepercayaan (confidence score) untuk setiap pernyataan. Fitur “Emerging Topics” untuk mendeteksi tren penelitian baru

Manfaat Utama Scopus AI

Efisiensi pencarian: Mengurangi waktu eksplorasi literatur dengan query sederhana. Ringkasan otomatis: Memberikan gambaran cepat tentang tren penelitian. Identifikasi gap: Membantu menemukan area yang belum banyak diteliti. Akses studi landmark: Menyediakan referensi kunci untuk memperkuat kerangka teori. Integrasi dengan SLR: Mempercepat tahap awal systematic review.

Kecepatan – Mengurangi waktu survei awal dari beberapa minggu menjadi hitungan menit. Kualitas sumber – Hanya menggunakan literatur tervalidasi (jurnal, prosiding, buku terindeks Scopus). Transparansi – Setiap klaim disertai referensi yang dapat diverifikasi. Deteksi celah penelitian – Menyoroti area yang belum banyak diteliti. Tidak perlu kata kunci rumit – Cukup tanyakan dalam kalimat biasa seperti “What are the recent advances in…”

Manfaat untuk Systematic Literature Review (SLR)

Bagi mahasiswa doktoral, SLR adalah fondasi untuk menentukan topik riset. Scopus AI membantu di beberapa tahap penting:

Formulasi pertanyaan riset: Dengan pencarian berbasis bahasa alami, mahasiswa dapat menguji berbagai formulasi pertanyaan. Pencarian literatur komprehensif: AI memperluas cakupan pencarian tanpa melewatkan artikel relevan. Seleksi awal studi: Ringkasan hasil memudahkan identifikasi artikel yang layak ditinjau lebih lanjut. Pemetaan tren penelitian: Membantu melihat arah perkembangan bidang tertentu. Identifikasi novelty: Gap yang ditemukan bisa menjadi dasar novelty untuk disertasi.

Mahasiswa doktoral (S3) menghadapi tantangan: harus menemukan topik orisinal, signifikan, dan layak diteliti dalam 3–5 tahun. SLR adalah metode standar untuk memetakan bukti yang ada, namun SLR tradisional memakan waktu sangat lama (bisa 6–12 bulan hanya untuk tahap awal). Scopus AI tidak menggantikan SLR, tetapi mempercepat fase-fase awal secara drastis.

Berikut manfaat spesifik untuk mahasiswa doktoral:

1. Eksplorasi Awal Domain Penelitian (Scoping Review)

  • Dengan satu pertanyaan, Scopus AI menghasilkan ringkasan bidang, tren, dan tokoh penting.
  • Contoh: “Systematic literature review on digital transformation in public sector governance in Southeast Asia 2020–2025”
  • Manfaat: Mahasiswa langsung mendapat peta wilayah penelitian tanpa harus membaca 200 abstrak dulu.

2. Identifikasi Celah Penelitian (Research Gap) secara Cepat

  • Fitur Emerging Topics menyaring artikel 2 tahun terakhir dan mengelompokkan topik yang sedang naik daun.
  • AI juga menyebutkan “what is not yet known” dalam ringkasannya.
  • Manfaat: Calon topik disertasi bisa ditemukan dari area yang masih minim eksplorasi, bukan hanya mengulang penelitian lama.

3. Menyusun Kerangka Pustaka Awal untuk SLR

  • Dalam SLR yang benar, kita tetap perlu protokol PRISMA, screening ganda, ekstraksi data manual, dll. Tapi Scopus AI bisa digunakan untuk membangun draft awal:
    • Daftar kata kunci dan sinonim
    • Klasifikasi konsep utama
    • Peta hubungan antartema
  • Manfaat: Menghemat waktu 60–70% pada fase formulasi pertanyaan dan identifikasi sumber.

4. Menentukan Kelayakan Topik (Feasibility Check)

  • Sebelum memutuskan topik, mahasiswa bisa bertanya ke Scopus AI: “What are the main methodological approaches used in studying X?” atau “Is there enough empirical evidence from developing countries on Y?”
  • AI akan menunjukkan apakah topik tersebut terlalu luas, terlalu sempit, atau sudah jenuh.
  • Manfaat: Mencegah pemilihan topik yang tidak feasible di tengah jalan studi doktoral.

5. Mendukung Bagian “Background” dan “Related Work” dalam Proposal Disertasi

  • Hasil dari Scopus AI dapat menjadi kerangka awal untuk penulisan bab tinjauan pustaka.
  • Karena setiap klaim punya referensi, mahasiswa bisa langsung mengunduh artikel-artikel kunci untuk dibaca lebih dalam.
  • Manfaat: Proposal menjadi lebih berbasis bukti dan argumentatif.

Peringatan Penting (Batas Penggunaan)

Scopus AI TIDAK bisa menggantikan systematic literature review formal.
SLR sejati harus memenuhi kriteria:

  • Protokol yang dapat direproduksi (bisa diulang oleh peneliti lain)
  • Proses screening ganda dengan kriteria inklusi/eksplisit
  • Penilaian kualitas dan bias studi secara manual
  • Ekstraksi data dan sintesis naratif atau meta-analisis

Scopus AI hanya untuk tahap eksplorasi dan pemetaan awal. Setelah topik ditentukan, mahasiswa doktoral tetap harus melakukan SLR penuh dengan metode standar (misalnya PRISMA). Namun dengan bantuan Scopus AI, proses SLR bisa lebih terarah dan efisien.

Catatan Penting

  • Scopus AI bukan pengganti penuh proses SLR; tetap diperlukan seleksi manual, analisis kritis, dan sintesis.
  • Mahasiswa doktoral harus menggunakan Scopus AI sebagai alat bantu eksplorasi awal, lalu melanjutkan dengan metode SLR standar (misalnya PRISMA).
  • Karena berbasis langganan, akses Scopus AI bergantung pada institusi atau individu.

Perbandingan Scopus AI vs Pencarian Manual

AspekScopus AIManual
Input queryBahasa alamiKata kunci spesifik
OutputRingkasan + highlightDaftar artikel mentah
EfisiensiCepat, terstrukturLambat, repetitif
Identifikasi gapDidukung AIBergantung analisis manual
Akses landmarkDisediakan otomatisHarus dicari sendiri

Kesimpulan untuk Mahasiswa Doktoral

TahapTanpa Scopus AIDengan Scopus AI
Memetakan bidang penelitian2–4 minggu1–2 jam
Menemukan research gap1–2 bulan1–2 hari
Menyusun daftar pustaka awal100–200 abstrak dibaca manualAI beri 15–30 artikel inti
Cek kelayakan topikTebakan atau konsultasi berulangBisa diuji dengan cepat sendiri

Rekomendasi: Gunakan Scopus AI sebagai pilot atau pemandu awal, lalu lanjutkan dengan SLR (Systematic Literature Review) tradisional untuk validasi dan kedalaman analisis.

Penyebab Jurnal Diskontinu dari Scopus

Oleh: Maryono

Jurnal yang telah terindeks Scopus, dalam perkembangannya dapat kehilangan status indeksnya atau di-“discontinue” karena tidak lagi memenuhi standar kualitas dan integritas yang terus-menerus dievaluasi oleh tim Content Selection and Advisory Board (CSAB). Pada dasarnya, proses ini adalah bentuk “quality control” berkelanjutan untuk menjaga reputasi database Scopus

Berikut adalah rincian penyebab utamanya:

1. Publication Concern (Kekhawatiran terhadap Proses Publikasi)

Ini merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan jurnal di-discontinue. Data menunjukkan sekitar 59.7% jurnal yang dicabut indeksnya bermasalah di area ini . Indikatornya meliputi:

  • Rekrutmen Editor Tidak Profesional: Mengikutsertakan editor tanpa keahlian yang sesuai atau melibatkan “editor bayaran”.
  • Peer Review Tidak Transparan atau Bermasalah: Proses review yang tidak jelas, asal-asalan, atau bahkan tidak dilakukan.
  • Pelanggaran Etika Publikasi: Tidak menangani masalah seperti plagiarisme, konflik kepentingan, atau pemalsuan data dengan serius.

2. Outlier Behaviour (Perilaku Publikasi yang Tidak Wajar)

Scopus menggunakan ilmu data untuk mendeteksi anomali atau keanehan dalam perilaku publikasi jurnal. Faktor ini berkontribusi pada sekitar 14.5% kasus penghapusan indeks. Contoh perilaku yang mencurigakan adalah:

Ledakan Publikasi (Publication Burst): Tiba-tiba menerbitkan artikel dalam jumlah sangat besar (ratusan atau ribuan) dalam satu edisi, sementara sebelumnya hanya menerbitkan puluhan artikel. Ini seringkali merupakan indikasi praktik “paper mill” atau penerbitan masal demi keuntungan finansial.

Praktik Sitasi Tidak Wajar (Citation Stacking/Cartels): Terdapat pola sitasi yang berlebihan dan tidak wajar antar jurnal atau dalam satu kelompok penulis tertentu untuk menaikkan metrik secara artifisial

3. Penurunan Kualitas Konten dan Standar Ilmiah

Setelah terindeks, sebuah jurnal harus secara konsisten mempertahankan kualitas ilmiahnya. Jika tim kurasi Scopus menemukan penurunan standar yang signifikan, jurnal tersebut akan ditinjau ulang. Indikatornya antara lain:

Kualitas Bahasa Inggris Buruk: Tata bahasa yang tidak standar menunjukkan lemahnya proses editorial

Ketidaksesuaian dengan Fokus dan Ruang Lingkup (Aim & Scope): Banyak artikel yang diterbitkan tidak lagi relevan atau menyimpang dari fokus awal jurnal

Kontribusi Ilmiah Rendah: Artikel yang diterbitkan dinilai tidak memiliki kebaruan (novelty), kontribusi teoretis yang kecil, atau kualitas akademis secara umum rendah

4. Masalah Keragaman dan Representasi Internasional

Sebagai database internasional, Scopus mengharapkan jurnal memiliki cakupan global. Kekurangan dalam aspek ini dapat menyebabkan penolakan saat evaluasi ulang

Keragaman Penulis Terbatas: Penulis artikel mayoritas berasal dari satu negara, meskipun jurnal mengklaim diri sebagai “jurnal internasional”

Komposisi Dewan Editor Homogen: Dewan editor didominasi oleh peneliti dari satu afiliasi atau satu negara, dan kurang melibatkan pakar internasional dari berbagai benua

Kurangnya Representasi Internasional: Jurnal tidak berhasil menarik minat penulis, pembaca, atau kontribusi dari komunitas ilmiah global.

5. Metrik yang Menurun atau Rendah (Metrics)

Meskipun bukan satu-satunya penentu, kinerja metrik jurnal terus dipantau

Jumlah Sitasi Rendah: Secara keseluruhan, artikel dalam jurnal tersebut jarang disitasi oleh peneliti lain, menunjukkan rendahnya dampak atau relevansi ilmiah

Penurunan Metrik Drastis: Terjadi penurunan signifikan pada skor seperti SJR, CiteScore, atau SNIP dalam periode waktu tertentu

Peringatan Tambahan: “On Hold”

Sebelum benar-benar di-discontinue, jurnal yang terindikasi bermasalah biasanya akan ditempatkan dalam status “On Hold” (atau “Re-evaluation”) oleh Scopus.

Apa yang terjadi? Selama masa ini, Scopus berhenti mengindeks artikel baru dari jurnal tersebut sambil melakukan evaluasi ulang oleh CSAB

Hasilnya: Jika evaluasi gagal, statusnya akan resmi menjadi “Discontinued” dan tidak ada artikel baru yang akan diindeks. Jika lulus, indeksasi akan dilanjutkan. Ini adalah “lampu kuning” yang sangat penting untuk diwaspadai peneliti.

Daftar pustaka

Laksana, Eko Pramudya dkk. 2026. The Scopus Radar Readiness Model for Mitigating Algorithmic Discontinuation Risks. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan,6(3), 2026, 3. https://doi.org/10.17977/um065.v6.i3.2026.3.

Risdianto, Faizal. 2025. 10 Alasan Jurnal Ditolak Aplikasinya oleh Team CSAB SCOPUS. https://forum.relawanjurnal.id/viewtopic.php?f=13&t=1873

UU NO.28 Thn.2014 tentang HAK CIPTA

Oleh: Maryono

Perundangan utama yang mengatur hak cipta di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. UU ini menjadi dasar hukum perlindungan karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, menggantikan UU No. 19 Tahun 2002.

Pokok-Pokok UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Definisi Hak Cipta
Hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya.
Objek Perlindungan
Meliputi karya tulis, musik, seni rupa, fotografi, program komputer, karya arsitektur, sinematografi, dan lain-lai
Jangka Waktu Perlindungan
Karya cipta tertentu (misalnya buku, musik, seni rupa): berlaku selama hidup pencipta + 70 tahun setelah meninggal dunia. Program komputer, sinematografi, fotografi: 50 tahun sejak pertama kali diumumkan.
Hak Ekonomi
Pencipta berhak memperoleh manfaat ekonomi dari ciptaannya, termasuk royalti. UU ini membatasi pengalihan hak ekonomi dalam bentuk jual putus (sold flat).

Hak Moral
Hak yang melekat secara permanen pada pencipta, seperti hak untuk tetap dicantumkan nama dan menjaga integri-tas ciptaan.
Penyelesaian Sengketa
Bisa dilakukan melalui mediasi, arbitrase, atau pengadilan. UU ini juga menerapkan delik aduan untuk tuntutan pidana, artinya proses hukum dilakukan jika ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.
Tanggung Jawab Pengelola Tempat Perdagangan
Pengelola pusat perbelanjaan bertanggung jawab atas penjualan barang yang melanggar hak cipta di tempatnya.
Hak Cipta sebagai Objek Jaminan
Hak cipta dapat dijadikan objek jaminan fidusia (jaminan utang).

Tujuan dan Latar Belakang
Mendukung pembangunan bangsa: Hak cipta dianggap sebagai kekayaan intelektual yang strategis untuk mendukung kesejahteraan umum.
Menyesuaikan perkembangan global: Indonesia menyesuaikan aturan dengan standar internasional, karena telah menjadi anggota berbagai perjanjian internasional di bidang hak cipta.
Memberikan kepastian hukum: UU ini hadir untuk melindungi pencipta dan pemegang hak cipta dari pelanggaran, sekaligus mendorong kreativitas dan inovasi.
Pelanggaran
Melarang penggandaan, pendistribusian, dan pemasaran ciptaan secara tidak sah untuk keuntungan, yang disebut pembajakan
Hak Terkait
Melindungi pelaku pertunjukan, produser fonogram (rekaman suara), dan lembaga penyiaran.
Pencatatan
Penciptaan tidak wajib dicatatkan, namun pencatatan memberikan bukti awal kepemilikan

Bagaimana Cara Mendapatkan Hak Cipta?
Hak cipta timbul secara otomatis saat ciptaan diwujudkan, jadi tidak perlu pendaftaran, tetapi pendaftaran (pencatatan) di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dianjurkan untuk perlindungan hukum yang lebih kuat