Oleh: Maryono
Dalam digitalisasi, format file dibagi menjadi beberapa kategori utama: gambar (image) dan video. Setiap format memiliki kelebihan, kekurangan, serta standar penggunaannya. Pemilihan format sangat bergantung pada tujuan: apakah untuk web, arsip, editing profesional, atau distribusi massal.
Format File Gambar (Image)
| Format JPG/JPEG | Kompresi lossy, ukuran kecil, cocok untuk foto. | Kelebihan: hemat ruang, dukungan luas. Kekurangan: detail tajam bisa hilang. | Standar web & fotografi umum. |
|---|---|---|---|
| Format PNG | Lossless, mendukung transparansi. | Kelebihan: kualitas tinggi, transparansi alpha. Kekurangan: ukuran lebih besar. | Standar web grafis, ikon, desain UI. |
| Format GIF | Animasi sederhana, 256 warna. | Kelebihan: animasi ringan, lossless. Kekurangan: terbatas warna, tidak cocok foto. | Standar animasi web, meme. |
| Format BMP | Tidak terkompresi, raw bitmap. | Kelebihan: kualitas tinggi. Kekurangan: ukuran sangat besar. | Editing grafis mentah. |
| Format TIFF | Lossless, multi-layer. | Kelebihan: kualitas cetak profesional. Kekurangan: file besar. | Standar industri percetakan & fotografi. |
Format File Video
| Format MP4 | Kompresi efisien, kualitas baik. | Kelebihan: ukuran kecil, kompatibilitas luas. Kekurangan: kompresi bisa turunkan kualitas. | Standar YouTube, media sosial. |
| Format AVI | File besar, kualitas tinggi. | Kelebihan: fleksibel, banyak codec. Kekurangan: boros ruang. | Kamera digital, handycam. |
| Format MKV | Container fleksibel. | Kelebihan: bisa simpan video, audio, subtitle. Kekurangan: tidak semua perangkat mendukung. | Distribusi film online. |
| Format WMV | Format Windows. | Kelebihan: kompatibel di Windows. Kekurangan: kurang universal. | Standar Windows lama. |
| Format FLV | Flash Video. | Kelebihan: populer di awal YouTube. Kekurangan: sudah usang. | Streaming lama. |
| Format WEBM | Codec VP8/VP9, audio Opus. | Kelebihan: open-source, efisien. Kekurangan: belum semua situs mendukung. | Standar HTML5 video. |
| Format GIFV | Alternatif GIF. | Kelebihan: hemat ukuran, looping. Kekurangan: tanpa suara. | Meme & konten ringan.
Kesimpulan
- Untuk gambar: gunakan JPG untuk foto umum, PNG untuk grafis dengan transparansi, TIFF untuk cetak profesional.
- Untuk video: gunakan MP4 sebagai standar distribusi, MKV untuk film dengan subtitle, WEBM untuk web modern.
- Standar industri: TIFF di percetakan, MP4 di distribusi digital, PNG di desain web.
Standar digitalisasi naskah kuno dan buku langka di Indonesia maupun dunia umumnya menekankan pada resolusi tinggi, format file lossless (TIFF/RAW), serta kerapatan piksel minimal 300–600 dpi untuk teks, dan hingga 1200 dpi untuk detail halus. Internasional menggunakan pedoman dari UNESCO, IFLA, dan FADGI, sementara di Indonesia Perpusnas melalui portal Khastara mendorong penggunaan TIFF dengan resolusi tinggi untuk arsip permanen.
Standar Internasional Digitalisasi Naskah Kuno
- UNESCO Guidelines
- Resolusi minimum: 300 dpi untuk teks umum, 600–1200 dpi untuk manuskrip detail.
- Format: TIFF (lossless) sebagai master file, JPEG/PNG untuk akses publik.
- Warna: gunakan 24-bit true color untuk menjaga keaslian tinta dan kertas.
- FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative, AS)
- Standar kualitas berbintang (1–4 stars).
- 600 dpi untuk teks, 400 ppi untuk foto, 8-bit grayscale atau 24-bit RGB.
- File master: TIFF uncompressed, file distribusi: JPEG/PNG/PDF.
- IFLA (International Federation of Library Associations)
- Menekankan interoperabilitas metadata (MARC, Dublin Core).
- Format master: TIFF, akses: JPEG/PNG/PDF.
- Penting: dokumentasi teknis dan metadata harus lengkap.
Standar di Indonesia
- Perpusnas RI – Khastara
- Format master: TIFF atau RAW dengan resolusi tinggi.
- Resolusi: minimum 300 dpi, dianjurkan 600 dpi untuk teks rapuh.
- Metadata: mengikuti standar Dublin Core dan interoperabilitas internasional.
- Distribusi publik: JPEG/PNG/PDF untuk akses daring.
Perbandingan Format & Standar
| Format TIFF | Lossless, multi-layer. | Cocok untuk arsip permanen. | File besar, butuh storage besar. |
| Format RAW | Data asli kamera/scanner. | Preservasi maksimal. | Butuh software khusus. |
| Format JPEG | Lossy, ukuran kecil. | Distribusi online. | Detail bisa hilang. |
| Format PNG | Lossless, transparansi. | Akses publik, web. | Ukuran lebih besar dari JPEG. |
| Format PDF/A | Standar arsip dokumen. | Cocok untuk teks + gambar. | Tidak fleksibel untuk editing. |
Kesimpulan Praktis
- Gunakan TIFF/RAW 600–1200 dpi untuk master file naskah kuno.
- Sediakan JPEG/PNG/PDF untuk akses publik.
- Standar UNESCO/FADGI/IFLA agar koleksi bisa diintegrasikan global.
- Perpusnas Khastara menjadi rujukan utama untuk digitalisasi manuskrip.
Standar Internasional
- UNESCO Guidelines for the Preservation of Digital Heritage Dokumen UNESCO yang menekankan pentingnya resolusi tinggi, format lossless (TIFF), serta interoperabilitas metadata untuk koleksi warisan budaya.
- FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative, AS) Standar teknis yang digunakan oleh lembaga arsip dan perpustakaan federal AS. Menetapkan resolusi minimum (300–600 dpi), kedalaman warna (8-bit grayscale, 24-bit RGB), dan format master (TIFF).
- IFLA Principles for Digitization of Rare Materials Pedoman dari International Federation of Library Associations yang menekankan interoperabilitas metadata (MARC, Dublin Core) dan penggunaan format standar untuk preservasi jangka panjang.
- Europeana Technical Guidelines Digunakan oleh jaringan perpustakaan dan museum Eropa. Menetapkan standar resolusi, format file, serta metadata agar koleksi dapat diintegrasikan lintas negara.
Standar di Indonesia
- Perpusnas RI – Khastara Portal koleksi digital naskah kuno Indonesia. Perpusnas menganjurkan penggunaan TIFF/RAW sebagai master file dengan resolusi minimum 300 dpi, idealnya 600 dpi untuk teks rapuh.
- Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) ANRI memiliki pedoman digitalisasi arsip yang menekankan resolusi tinggi, format lossless, serta metadata berbasis ISAD(G) dan Dublin Core.
- Kebijakan GLAM di Universitas Padjadjaran (Unpad) Unpad menjadi salah satu institusi yang menerapkan integrasi GLAM dengan standar metadata internasional, termasuk interoperabilitas API untuk koleksi digital.
Ringkasan Praktis
- Resolusi: 300–600 dpi (teks), hingga 1200 dpi (detail halus).
- Format master: TIFF/RAW (lossless).
- Format akses: JPEG/PNG/PDF.
- Metadata: Dublin Core, MARC, ISAD(G).
- Rujukan utama: UNESCO, FADGI, IFLA, Europeana, Perpusnas RI, ANRI.
Perbandingan Standar Digitalisasi Naskah Kuno
| Standar UNESCO | Resolusi min. 300 dpi (teks), 600–1200 dpi (detail) | Format master: TIFF lossless, akses: JPEG/PNG | Metadata: Dublin Core, interoperabilitas global |
|---|---|---|---|
| Standar FADGI (AS) | 300–600 dpi teks, 400 ppi foto | Master: TIFF uncompressed, distribusi: JPEG/PNG/PDF | Metadata teknis + standar federal |
| Standar IFLA | 300–600 dpi sesuai jenis koleksi | Master: TIFF, akses: JPEG/PNG/PDF | Metadata: MARC, Dublin Core |
| Standar Europeana | 400–600 dpi | Master: TIFF, akses: JPEG/PNG | Metadata: Europeana Data Model (EDM) |
| Perpusnas RI – Khastara | Min. 300 dpi, dianjurkan 600 dpi | Master: TIFF/RAW, akses: JPEG/PNG/PDF | Metadata: Dublin Core, integrasi internasional |
| ANRI (Arsip Nasional RI) | 300–600 dpi | Master: TIFF, akses: PDF/A untuk dokumen | Metadata: ISAD(G), Dublin Core |
Ringkasan
- Internasional (UNESCO, FADGI, IFLA, Europeana): menekankan TIFF lossless sebagai master file, resolusi ≥300 dpi (umumnya 600 dpi untuk manuskrip), serta metadata interoperabel (Dublin Core, MARC, EDM).
- Indonesia (Perpusnas, ANRI): mengikuti pola internasional dengan TIFF/RAW sebagai master, resolusi 300–600 dpi, metadata Dublin Core/ISAD(G).
- Distribusi publik: JPEG/PNG/PDF untuk akses daring, sedangkan master file tetap disimpan dalam format lossless untuk preservasi jangka panjang.
Alur Digitalisasi

Penjelasan Tahapan
- Pindai/Fotografi → menggunakan scanner resolusi tinggi (300–1200 dpi).
- File Master → disimpan dalam TIFF/RAW lossless, resolusi tinggi, 24-bit warna.
- File Akses → dibuat untuk publikasi online (JPEG, PNG, PDF).
- Metadata → deskripsi lengkap menggunakan standar Dublin Core, ISAD(G), MARC.
- Repositori Digital → penyimpanan jangka panjang dengan backup dan keamanan.
Repositori Internasional
Europeana Manuscripts Platform koleksi digital Eropa yang mengintegrasikan ribuan manuskrip dari berbagai negara.
- Format master: TIFF 600 dpi, metadata: Europeana Data Model (EDM).
- Fokus: interoperabilitas lintas lembaga dan akses publik terbuka.
Digital Public Library of America (DPLA) Menghubungkan koleksi dari perpustakaan, museum, dan arsip di seluruh AS.
- Format: TIFF/PNG, metadata: Dublin Core.
- Standar: mengikuti FADGI untuk kualitas digitalisasi.
British Library Digitised Manuscripts Menyediakan akses ke manuskrip abad pertengahan dan naskah langka.
- Format: TIFF 600–1200 dpi, metadata: MARC + Dublin Core.
- Fokus: preservasi jangka panjang dan akses akademik.
Repositori Nasional
Khastara – Perpusnas RI Portal resmi koleksi digital naskah kuno Indonesia.
- Format master: TIFF/RAW, resolusi ≥300 dpi, metadata: Dublin Core.
- Fokus: preservasi naskah Nusantara dan akses publik.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Menyediakan arsip digital sejarah dan dokumen pemerintahan.
- Format: TIFF/PDF/A, metadata: ISAD(G).
- Standar: mengikuti pedoman digitalisasi arsip nasional.
GLAM Unpad Digital Repository Inisiatif universitas untuk mengintegrasikan galeri, perpustakaan, arsip, dan museum.
- Format: TIFF/PNG, metadata: Dublin Core + API interoperabilitas.
- Fokus: akses terbuka dan kolaborasi riset.
Kesimpulan
- Internasional: menekankan interoperabilitas metadata dan format lossless (TIFF).
- Indonesia: mengikuti pola global dengan adaptasi lokal (Khastara, ANRI, GLAM Unpad).
- Semua repositori menggunakan resolusi tinggi (≥300 dpi) dan metadata standar untuk memastikan keberlanjutan dan akses global.
Tabel Perbandingan Repositori Digital Naskah Kuno
| Repositori / Negara | Format File Utama | Standar Metadata | Tujuan Preservasi & Akses |
|---|---|---|---|
| Europeana Manuscripts (Eropa) | TIFF (master), JPEG/PNG (akses) | Europeana Data Model (EDM) | Interoperabilitas lintas lembaga dan negara; akses publik terbuka. |
| British Library Digitised Manuscripts (Inggris) | TIFF 600–1200 dpi | MARC + Dublin Core | Preservasi jangka panjang dan akses akademik global. |
| Digital Public Library of America (DPLA) (AS) | TIFF/PNG | Dublin Core | Integrasi koleksi museum, arsip, dan perpustakaan; akses terbuka. |
| Khastara – Perpusnas RI (Indonesia) | TIFF/RAW (master), JPEG/PNG/PDF (akses) | Dublin Core | Preservasi naskah Nusantara dan akses daring publik. |
| ANRI Digital Archives (Indonesia) | TIFF (master), PDF/A (dokumen) | ISAD(G) + Dublin Core | Preservasi arsip sejarah dan dokumen pemerintahan. |
| GLAM Unpad Repository (Indonesia) | TIFF/PNG | Dublin Core + API interoperabilitas | Integrasi galeri, perpustakaan, arsip, dan museum; kolaborasi riset terbuka. |
Analisis Singkat
- Internasional: menekankan interoperabilitas metadata dan format lossless (TIFF) untuk preservasi jangka panjang.
- Indonesia: mengikuti pola global dengan adaptasi lokal (Khastara, ANRI, GLAM Unpad) dan fokus pada pelestarian warisan budaya Nusantara.
- Metadata: Dublin Core menjadi standar universal, sementara ISAD(G) dan EDM digunakan untuk arsip dan integrasi lintas sistem.
Penjelasan Hubungan Metadata
- Dublin Core → standar deskripsi sederhana, dipakai luas di repositori internasional dan nasional (Perpusnas, ANRI, DPLA).
- MARC → format katalog perpustakaan tradisional, digunakan British Library dan banyak perpustakaan besar.
- ISAD(G) → standar arsip internasional, dipakai ANRI untuk arsip pemerintahan.
- EDM (Europeana Data Model) → standar integrasi lintas negara di Eropa, menghubungkan koleksi manuskrip dari berbagai lembaga.
Interoperabilitas
- Dublin Core ↔ MARC → memungkinkan integrasi katalog perpustakaan tradisional dengan repositori digital.
- Dublin Core ↔ ISAD(G) → menyatukan deskripsi arsip dengan koleksi digital.
- Dublin Core ↔ EDM → menjembatani koleksi lokal dengan platform internasional seperti Europeana.
- MARC ↔ EDM → memungkinkan perpustakaan besar (misalnya British Library) berkontribusi ke Europeana.
Penjelasan Alur Integrasi
- Dublin Core → berfungsi sebagai standar universal, sederhana, dan fleksibel.
- MARC ↔ Dublin Core → konversi data katalog perpustakaan ke format digital.
- ISAD(G) ↔ Dublin Core → mapping metadata arsip ke repositori digital.
- EDM ↔ Dublin Core → interoperabilitas lintas negara melalui Europeana.
- Repositori Digital Indonesia (Khastara, ANRI, GLAM Unpad) ↔ Dublin Core → integrasi dan akses publik daring.
Kesimpulan
- Dublin Core menjadi jembatan utama antarstandar metadata.
- MARC menjaga kesinambungan katalog perpustakaan tradisional.
- ISAD(G) memastikan arsip sejarah terdokumentasi dengan baik.
- EDM memungkinkan integrasi koleksi ke platform internasional seperti Europeana.
- Repositori Indonesia dapat terhubung ke jaringan global melalui Dublin Core → EDM.
















































