ORCID Open Researcher and Contributor ID

ORCID adalah sistem identitas global untuk peneliti yang menyediakan unique, persistent identifier (ORCID iD) agar karya ilmiah dan kontribusi akademik dapat dihubungkan secara jelas dengan individu yang membuatnya. Dengan ORCID, peneliti tidak akan tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa, dan profil mereka dapat terhubung otomatis ke publikasi, pendanaan, afiliasi, maupun data penelitian.

Apa itu ORCID?

  • Open Researcher and Contributor ID → singkatan dari ORCID, organisasi nirlaba global yang menyediakan identitas digital unik bagi peneliti.
  • ORCID iD → nomor identitas unik (misalnya: 0000-0002-1825-0097) yang gratis untuk didaftarkan oleh peneliti.
  • Tujuan utama → memastikan atribusi karya ilmiah yang jelas, mengurangi kesalahan administrasi, dan meningkatkan visibilitas penelitian lintas disiplin dan negara.

Fungsi Utama ORCID

  • Identitas peneliti → membedakan peneliti dengan nama serupa.
  • Integrasi publikasi → jurnal, penerbit, dan repositori dapat otomatis menghubungkan karya ke ORCID iD.
  • Manajemen karier → melacak afiliasi, pendanaan, dan kolaborasi sepanjang karier akademik.
  • Interoperabilitas sistem → terhubung dengan lebih dari 5.000 sistem riset global.

Perbandingan ORCID dengan Identitas Lain

Sistem Fokus Utama Kelebihan
ORCID Identitas peneliti global Gratis, unik, interoperabel, kontrol privasi oleh peneliti
Scopus Author ID Publikasi di Scopus Otomatis dibuat, tapi terbatas pada database Scopus
ResearcherID (Web of Science) Publikasi WoS Terintegrasi dengan WoS, tapi tidak universal
Google Scholar Profil sitasi Mudah dibuat, tapi tidak standar global

Catatan Penting

  • Privasi & kontrol → peneliti sendiri yang menentukan informasi apa yang ditampilkan publik.
  • Kewajiban → banyak penerbit internasional kini mewajibkan ORCID iD saat submit artikel.
  • Strategis → ORCID menjadi bagian penting dari infrastruktur riset global untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas akademik.

Untuk memperoleh ORCID iD, prosedurnya cukup sederhana dan gratis. Berikut langkah-langkah resmi yang bisa Anda ikuti:

Prosedur Mendaftar ORCID

  1. Akses situs ORCID
    • Buka laman resmi: https://orcid.org.
    • Klik tombol “Register” di pojok kanan atas.
  2. Isi formulir pendaftaran
    • Masukkan nama lengkap sesuai publikasi akademik.
    • Tambahkan email aktif (disarankan lebih dari satu untuk keamanan).
    • Buat password yang kuat.
  3. Pilih pengaturan privasi
    • ORCID memberi opsi: Public, Limited, atau Private.
    • Anda bisa mengatur visibilitas setiap data (misalnya afiliasi, publikasi).
  4. Verifikasi email
    • ORCID akan mengirim tautan konfirmasi ke email Anda.
    • Klik tautan tersebut untuk mengaktifkan akun.
  5. Dapatkan ORCID iD
    • Setelah verifikasi, Anda akan memperoleh nomor unik 16 digit (contoh: 0000-0002-1825-0097).
    • Nomor ini menjadi identitas permanen Anda sebagai peneliti.
  6. Lengkapi profil
    • Tambahkan afiliasi (misalnya Universitas Gadjah Mada).
    • Unggah publikasi, grant, atau aktivitas riset.
    • Hubungkan dengan sistem lain (Scopus, Web of Science, CrossRef, dll.).

Tips Penting

  • Gunakan email institusi agar lebih kredibel.
  • Pastikan nama konsisten dengan publikasi agar integrasi otomatis berjalan lancar.
  • Atur privasi sesuai kebutuhan: misalnya publikasi Public, data pribadi Limited.
  • Banyak jurnal internasional kini mewajibkan ORCID iD saat submit artikel.

 

APC Article Processing Charge

APC adalah singkatan dari Article Processing Charge, yaitu biaya yang dibebankan oleh penerbit jurnal kepada penulis untuk mempublikasikan artikel dalam model Open Access.

Fungsi APC

  • Menutup biaya publikasi: mencakup peer review, editing, typesetting, hosting online, dan pemeliharaan sistem.
  • Mendukung akses terbuka: artikel dapat diakses gratis oleh pembaca di seluruh dunia tanpa paywall.
  • Membiayai layanan tambahan: seperti DOI, indexing di database (Scopus, Web of Science), dan preservasi digital.

Kisaran Biaya APC

  • Jurnal internasional biasanya mengenakan APC antara $500 – $5,000 USD, tergantung penerbit dan reputasi jurnal.
  • Penerbit besar seperti Springer, Elsevier, atau Nature sering menetapkan APC lebih tinggi dibanding penerbit independen atau universitas.
  • Beberapa jurnal menawarkan waiver atau diskon bagi penulis dari negara berkembang atau dengan keterbatasan dana.

Perbedaan dengan Subscription Model

  • Pada model Subscription, pembaca atau institusi membayar untuk mengakses artikel.
  • Pada model Open Access dengan APC, penulis membayar agar artikelnya bebas diakses oleh semua orang.

Tabel Perbandingan Model Subscription vs Open Access

Aspek Subscription Open Access
Siapa membayar Institusi pembaca (melalui langganan) Penulis atau institusi penulis (APC)
Biaya penulis Umumnya gratis $30 – $12,000+ tergantung penerbit
Akses pembaca Terbatas pada pelanggan Gratis, global, segera tersedia
Hak cipta Biasanya dialihkan ke penerbit Penulis sering mempertahankan hak (CC BY)
Potensi sitasi Lebih rendah (akses terbatas) Lebih tinggi (akses terbuka)
Kepatuhan funder Sering tidak memenuhi mandat OA Memenuhi mandat OA (Plan S, NIH, dll.)
Embargo 6–24 bulan untuk self-archiving Tidak ada embargo

Analisis Singkat

  • Subscription model: lebih murah bagi penulis, tetapi akses terbatas bagi pembaca. Cocok jika institusi sudah berlangganan.
  • Open Access model: lebih mahal bagi penulis (APC tinggi), tetapi meningkatkan visibilitas, sitasi, dan kepatuhan terhadap mandat funder.
  • Penerbit besar (Nature, Elsevier, Springer): APC tinggi karena reputasi, indeksasi luas, dan brand prestige.
  • Penerbit lebih murah (MDPI, PLOS, Frontiers): APC lebih terjangkau, tetap memenuhi standar peer review, tetapi brand prestige lebih rendah dibanding penerbit besar.

Interpretasi Bagan Vosviewer untuk Analisis Kolaborasi

Oleh: Maryono

Interpretasi Elemen Visual

  • Ukuran noktah Noktah besar seperti goetzel, ron z. dan ozminskowski, ronald j. menunjukkan penulis dengan tingkat kolaborasi tinggi atau jumlah publikasi besar. Noktah kecil menandakan penulis dengan kontribusi atau keterhubungan lebih terbatas.
  • Panjang lengan Lengan (garis penghubung) yang pendek menandakan hubungan kolaborasi yang erat dan sering terjadi, sedangkan lengan panjang menunjukkan kolaborasi yang jarang atau lemah antar penulis.
  • Ketebalan lengan Lengan tebal berarti intensitas kolaborasi tinggi (banyak publikasi bersama), sementara lengan tipis menunjukkan hubungan yang lebih lemah atau hanya sesekali bekerja sama.
  • Warna klaster Warna membedakan kelompok kolaborasi.
    • Klaster biru: kelompok penulis yang berkolaborasi di sekitar goetzel, ron z. dengan fokus tertentu.
    • Klaster merah: kelompok lain yang memiliki hubungan internal kuat namun lebih sedikit koneksi ke pusat.
    • Klaster hijau: jaringan kolaborasi yang terhubung dengan ozminskowski, ronald j.
    • Klaster kuning: jembatan penghubung antara dua pusat kolaborasi besar, berperan sebagai intermediary authors.

Tiga Jenis Visualisasi VOSviewer

Jenis VisualisasiMakna UtamaInterpretasi dalam konteks kolaborasi
Network VisualizationMenunjukkan struktur hubungan antar penulisNode besar = penulis utama; garis = kekuatan kolaborasi; warna = kelompok kolaborasi
Overlay VisualizationMenampilkan dimensi waktu atau trenWarna gradasi (biru → kuning) menunjukkan evolusi kolaborasi dari lama ke baru
Density VisualizationMenunjukkan kepadatan kolaborasiArea terang = pusat kolaborasi aktif; area gelap = kolaborasi jarang terjadi

Kesimpulan Analitis

  • Goetzel, Ron Z. dan Ozminskowski, Ronald J. adalah hub utama dalam jaringan kolaborasi.
  • Klaster warna menunjukkan komunitas penelitian yang berbeda namun saling terhubung melalui penulis penghubung.
  • Kombinasi ukuran node dan ketebalan edge memperlihatkan hierarki kolaborasi, dari inti (core authors) hingga periferi (supporting authors).
  • Visualisasi ini membantu mengidentifikasi struktur sosial ilmiah, potensi kolaborasi baru, dan arah perkembangan riset.

Aneka Jenis Format File Dalam Digitalisasi

Oleh: Maryono

Dalam digitalisasi, format file dibagi menjadi beberapa kategori utama: gambar (image) dan video. Setiap format memiliki kelebihan, kekurangan, serta standar penggunaannya. Pemilihan format sangat bergantung pada tujuan: apakah untuk web, arsip, editing profesional, atau distribusi massal.

Format File Gambar (Image)

Format JPG/JPEGKompresi lossy, ukuran kecil, cocok untuk foto.Kelebihan: hemat ruang, dukungan luas. Kekurangan: detail tajam bisa hilang.Standar web & fotografi umum.
Format PNGLossless, mendukung transparansi.Kelebihan: kualitas tinggi, transparansi alpha. Kekurangan: ukuran lebih besar.Standar web grafis, ikon, desain UI.
Format GIFAnimasi sederhana, 256 warna.Kelebihan: animasi ringan, lossless. Kekurangan: terbatas warna, tidak cocok foto.Standar animasi web, meme.
Format BMPTidak terkompresi, raw bitmap.Kelebihan: kualitas tinggi. Kekurangan: ukuran sangat besar.Editing grafis mentah.
Format TIFFLossless, multi-layer.Kelebihan: kualitas cetak profesional. Kekurangan: file besar.Standar industri percetakan & fotografi.

Format File Video

| Format MP4 | Kompresi efisien, kualitas baik. | Kelebihan: ukuran kecil, kompatibilitas luas. Kekurangan: kompresi bisa turunkan kualitas. | Standar YouTube, media sosial. |

| Format AVI | File besar, kualitas tinggi. | Kelebihan: fleksibel, banyak codec. Kekurangan: boros ruang. | Kamera digital, handycam. |

| Format MKV | Container fleksibel. | Kelebihan: bisa simpan video, audio, subtitle. Kekurangan: tidak semua perangkat mendukung. | Distribusi film online. |

| Format WMV | Format Windows. | Kelebihan: kompatibel di Windows. Kekurangan: kurang universal. | Standar Windows lama. |

| Format FLV | Flash Video. | Kelebihan: populer di awal YouTube. Kekurangan: sudah usang. | Streaming lama. |

| Format WEBM | Codec VP8/VP9, audio Opus. | Kelebihan: open-source, efisien. Kekurangan: belum semua situs mendukung. | Standar HTML5 video. |

| Format GIFV | Alternatif GIF. | Kelebihan: hemat ukuran, looping. Kekurangan: tanpa suara. | Meme & konten ringan.

Kesimpulan

  • Untuk gambar: gunakan JPG untuk foto umum, PNG untuk grafis dengan transparansi, TIFF untuk cetak profesional.
  • Untuk video: gunakan MP4 sebagai standar distribusi, MKV untuk film dengan subtitle, WEBM untuk web modern.
  • Standar industri: TIFF di percetakan, MP4 di distribusi digital, PNG di desain web.

Standar digitalisasi naskah kuno dan buku langka di Indonesia maupun dunia umumnya menekankan pada resolusi tinggi, format file lossless (TIFF/RAW), serta kerapatan piksel minimal 300–600 dpi untuk teks, dan hingga 1200 dpi untuk detail halus. Internasional menggunakan pedoman dari UNESCO, IFLA, dan FADGI, sementara di Indonesia Perpusnas melalui portal Khastara mendorong penggunaan TIFF dengan resolusi tinggi untuk arsip permanen.

Standar Internasional Digitalisasi Naskah Kuno

  • UNESCO Guidelines
    • Resolusi minimum: 300 dpi untuk teks umum, 600–1200 dpi untuk manuskrip detail.
    • Format: TIFF (lossless) sebagai master file, JPEG/PNG untuk akses publik.
    • Warna: gunakan 24-bit true color untuk menjaga keaslian tinta dan kertas.
  • FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative, AS)
    • Standar kualitas berbintang (1–4 stars).
    • 600 dpi untuk teks, 400 ppi untuk foto, 8-bit grayscale atau 24-bit RGB.
    • File master: TIFF uncompressed, file distribusi: JPEG/PNG/PDF.
  • IFLA (International Federation of Library Associations)
    • Menekankan interoperabilitas metadata (MARC, Dublin Core).
    • Format master: TIFF, akses: JPEG/PNG/PDF.
    • Penting: dokumentasi teknis dan metadata harus lengkap.

Standar di Indonesia

  • Perpusnas RI – Khastara
    • Format master: TIFF atau RAW dengan resolusi tinggi.
    • Resolusi: minimum 300 dpi, dianjurkan 600 dpi untuk teks rapuh.
    • Metadata: mengikuti standar Dublin Core dan interoperabilitas internasional.
    • Distribusi publik: JPEG/PNG/PDF untuk akses daring.

Perbandingan Format & Standar

| Format TIFF | Lossless, multi-layer. | Cocok untuk arsip permanen. | File besar, butuh storage besar. |

| Format RAW | Data asli kamera/scanner. | Preservasi maksimal. | Butuh software khusus. |

| Format JPEG | Lossy, ukuran kecil. | Distribusi online. | Detail bisa hilang. |

| Format PNG | Lossless, transparansi. | Akses publik, web. | Ukuran lebih besar dari JPEG. |

| Format PDF/A | Standar arsip dokumen. | Cocok untuk teks + gambar. | Tidak fleksibel untuk editing. |

Kesimpulan Praktis

  • Gunakan TIFF/RAW 600–1200 dpi untuk master file naskah kuno.
  • Sediakan JPEG/PNG/PDF untuk akses publik.
  • Standar UNESCO/FADGI/IFLA agar koleksi bisa diintegrasikan global.
  • Perpusnas Khastara menjadi rujukan utama untuk digitalisasi manuskrip.

Standar Internasional

  • UNESCO Guidelines for the Preservation of Digital Heritage Dokumen UNESCO yang menekankan pentingnya resolusi tinggi, format lossless (TIFF), serta interoperabilitas metadata untuk koleksi warisan budaya.
  • FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative, AS) Standar teknis yang digunakan oleh lembaga arsip dan perpustakaan federal AS. Menetapkan resolusi minimum (300–600 dpi), kedalaman warna (8-bit grayscale, 24-bit RGB), dan format master (TIFF).
  • IFLA Principles for Digitization of Rare Materials Pedoman dari International Federation of Library Associations yang menekankan interoperabilitas metadata (MARC, Dublin Core) dan penggunaan format standar untuk preservasi jangka panjang.
  • Europeana Technical Guidelines Digunakan oleh jaringan perpustakaan dan museum Eropa. Menetapkan standar resolusi, format file, serta metadata agar koleksi dapat diintegrasikan lintas negara.

Standar di Indonesia

  • Perpusnas RI – Khastara Portal koleksi digital naskah kuno Indonesia. Perpusnas menganjurkan penggunaan TIFF/RAW sebagai master file dengan resolusi minimum 300 dpi, idealnya 600 dpi untuk teks rapuh.
  • Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) ANRI memiliki pedoman digitalisasi arsip yang menekankan resolusi tinggi, format lossless, serta metadata berbasis ISAD(G) dan Dublin Core.
  • Kebijakan GLAM di Universitas Padjadjaran (Unpad) Unpad menjadi salah satu institusi yang menerapkan integrasi GLAM dengan standar metadata internasional, termasuk interoperabilitas API untuk koleksi digital.

Ringkasan Praktis

  • Resolusi: 300–600 dpi (teks), hingga 1200 dpi (detail halus).
  • Format master: TIFF/RAW (lossless).
  • Format akses: JPEG/PNG/PDF.
  • Metadata: Dublin Core, MARC, ISAD(G).
  • Rujukan utama: UNESCO, FADGI, IFLA, Europeana, Perpusnas RI, ANRI.

Perbandingan Standar Digitalisasi Naskah Kuno

Standar UNESCOResolusi min. 300 dpi (teks), 600–1200 dpi (detail)Format master: TIFF lossless, akses: JPEG/PNGMetadata: Dublin Core, interoperabilitas global
Standar FADGI (AS)300–600 dpi teks, 400 ppi fotoMaster: TIFF uncompressed, distribusi: JPEG/PNG/PDFMetadata teknis + standar federal
Standar IFLA300–600 dpi sesuai jenis koleksiMaster: TIFF, akses: JPEG/PNG/PDFMetadata: MARC, Dublin Core
Standar Europeana400–600 dpiMaster: TIFF, akses: JPEG/PNGMetadata: Europeana Data Model (EDM)
Perpusnas RI – KhastaraMin. 300 dpi, dianjurkan 600 dpiMaster: TIFF/RAW, akses: JPEG/PNG/PDFMetadata: Dublin Core, integrasi internasional
ANRI (Arsip Nasional RI)300–600 dpiMaster: TIFF, akses: PDF/A untuk dokumenMetadata: ISAD(G), Dublin Core

Ringkasan

  • Internasional (UNESCO, FADGI, IFLA, Europeana): menekankan TIFF lossless sebagai master file, resolusi ≥300 dpi (umumnya 600 dpi untuk manuskrip), serta metadata interoperabel (Dublin Core, MARC, EDM).
  • Indonesia (Perpusnas, ANRI): mengikuti pola internasional dengan TIFF/RAW sebagai master, resolusi 300–600 dpi, metadata Dublin Core/ISAD(G).
  • Distribusi publik: JPEG/PNG/PDF untuk akses daring, sedangkan master file tetap disimpan dalam format lossless untuk preservasi jangka panjang.

Alur Digitalisasi

Penjelasan Tahapan

  • Pindai/Fotografi → menggunakan scanner resolusi tinggi (300–1200 dpi).
  • File Master → disimpan dalam TIFF/RAW lossless, resolusi tinggi, 24-bit warna.
  • File Akses → dibuat untuk publikasi online (JPEG, PNG, PDF).
  • Metadata → deskripsi lengkap menggunakan standar Dublin Core, ISAD(G), MARC.
  • Repositori Digital → penyimpanan jangka panjang dengan backup dan keamanan.

Repositori Internasional

Europeana Manuscripts Platform koleksi digital Eropa yang mengintegrasikan ribuan manuskrip dari berbagai negara.

  • Format master: TIFF 600 dpi, metadata: Europeana Data Model (EDM).
  • Fokus: interoperabilitas lintas lembaga dan akses publik terbuka.

Digital Public Library of America (DPLA) Menghubungkan koleksi dari perpustakaan, museum, dan arsip di seluruh AS.

  • Format: TIFF/PNG, metadata: Dublin Core.
  • Standar: mengikuti FADGI untuk kualitas digitalisasi.

British Library Digitised Manuscripts Menyediakan akses ke manuskrip abad pertengahan dan naskah langka.

  • Format: TIFF 600–1200 dpi, metadata: MARC + Dublin Core.
  • Fokus: preservasi jangka panjang dan akses akademik.

Repositori Nasional

Khastara – Perpusnas RI Portal resmi koleksi digital naskah kuno Indonesia.

  • Format master: TIFF/RAW, resolusi ≥300 dpi, metadata: Dublin Core.
  • Fokus: preservasi naskah Nusantara dan akses publik.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Menyediakan arsip digital sejarah dan dokumen pemerintahan.

  • Format: TIFF/PDF/A, metadata: ISAD(G).
  • Standar: mengikuti pedoman digitalisasi arsip nasional.

GLAM Unpad Digital Repository Inisiatif universitas untuk mengintegrasikan galeri, perpustakaan, arsip, dan museum.

  • Format: TIFF/PNG, metadata: Dublin Core + API interoperabilitas.
  • Fokus: akses terbuka dan kolaborasi riset.

Kesimpulan

  • Internasional: menekankan interoperabilitas metadata dan format lossless (TIFF).
  • Indonesia: mengikuti pola global dengan adaptasi lokal (Khastara, ANRI, GLAM Unpad).
  • Semua repositori menggunakan resolusi tinggi (≥300 dpi) dan metadata standar untuk memastikan keberlanjutan dan akses global.

Tabel Perbandingan Repositori Digital Naskah Kuno

Repositori / NegaraFormat File UtamaStandar MetadataTujuan Preservasi & Akses
Europeana Manuscripts (Eropa)TIFF (master), JPEG/PNG (akses)Europeana Data Model (EDM)Interoperabilitas lintas lembaga dan negara; akses publik terbuka.
British Library Digitised Manuscripts (Inggris)TIFF 600–1200 dpiMARC + Dublin CorePreservasi jangka panjang dan akses akademik global.
Digital Public Library of America (DPLA) (AS)TIFF/PNGDublin CoreIntegrasi koleksi museum, arsip, dan perpustakaan; akses terbuka.
Khastara – Perpusnas RI (Indonesia)TIFF/RAW (master), JPEG/PNG/PDF (akses)Dublin CorePreservasi naskah Nusantara dan akses daring publik.
ANRI Digital Archives (Indonesia)TIFF (master), PDF/A (dokumen)ISAD(G) + Dublin CorePreservasi arsip sejarah dan dokumen pemerintahan.
GLAM Unpad Repository (Indonesia)TIFF/PNGDublin Core + API interoperabilitasIntegrasi galeri, perpustakaan, arsip, dan museum; kolaborasi riset terbuka.

Analisis Singkat

  • Internasional: menekankan interoperabilitas metadata dan format lossless (TIFF) untuk preservasi jangka panjang.
  • Indonesia: mengikuti pola global dengan adaptasi lokal (Khastara, ANRI, GLAM Unpad) dan fokus pada pelestarian warisan budaya Nusantara.
  • Metadata: Dublin Core menjadi standar universal, sementara ISAD(G) dan EDM digunakan untuk arsip dan integrasi lintas sistem.

Penjelasan Hubungan Metadata

  • Dublin Core → standar deskripsi sederhana, dipakai luas di repositori internasional dan nasional (Perpusnas, ANRI, DPLA).
  • MARC → format katalog perpustakaan tradisional, digunakan British Library dan banyak perpustakaan besar.
  • ISAD(G) → standar arsip internasional, dipakai ANRI untuk arsip pemerintahan.
  • EDM (Europeana Data Model) → standar integrasi lintas negara di Eropa, menghubungkan koleksi manuskrip dari berbagai lembaga.

Interoperabilitas

  • Dublin Core ↔ MARC → memungkinkan integrasi katalog perpustakaan tradisional dengan repositori digital.
  • Dublin Core ↔ ISAD(G) → menyatukan deskripsi arsip dengan koleksi digital.
  • Dublin Core ↔ EDM → menjembatani koleksi lokal dengan platform internasional seperti Europeana.
  • MARC ↔ EDM → memungkinkan perpustakaan besar (misalnya British Library) berkontribusi ke Europeana.

Penjelasan Alur Integrasi

  • Dublin Core → berfungsi sebagai standar universal, sederhana, dan fleksibel.
  • MARC ↔ Dublin Core → konversi data katalog perpustakaan ke format digital.
  • ISAD(G) ↔ Dublin Core → mapping metadata arsip ke repositori digital.
  • EDM ↔ Dublin Core → interoperabilitas lintas negara melalui Europeana.
  • Repositori Digital Indonesia (Khastara, ANRI, GLAM Unpad) ↔ Dublin Core → integrasi dan akses publik daring.

Kesimpulan

  • Dublin Core menjadi jembatan utama antarstandar metadata.
  • MARC menjaga kesinambungan katalog perpustakaan tradisional.
  • ISAD(G) memastikan arsip sejarah terdokumentasi dengan baik.
  • EDM memungkinkan integrasi koleksi ke platform internasional seperti Europeana.
  • Repositori Indonesia dapat terhubung ke jaringan global melalui Dublin Core → EDM.

Aneka Jenis Format File Dalam Analisis Vosviewer

Oleh: Maryono

Terdapat aneka jenis format file yang digunakan dalam analisis bibliometrika dengan VOSviewer, masing-masing memiliki penggunaan yang berbeda, berikut penjelasannya yang mungkin bermanfaat:

Format File VOSviewer

Format
Kepanjangan & Asal-usul
Penggunaan UtamaKelebihanKekurangan
CSVComma-Separated Values → format tabular sederhana, berasal dari sistem database & spreadsheetDigunakan untuk menyimpan data bibliometrik (judul, penulis, kata kunci, sitasi) dari Scopus/WoS; fleksibel untuk analisis co-authorship, co-citation, keyword co-occurrenceFleksibel, mudah diolah dengan Excel/R/Python, mendukung semua jenis analisisRawan error jika struktur kolom tidak konsisten; perlu penataan manual
RISResearch Information Systems format → dikembangkan oleh RIS Inc. sebagai standar pertukaran bibliografiDigunakan oleh reference manager (EndNote, Zotero, Mendeley) untuk metadata publikasi (judul, penulis, jurnal, DOI, dll); cocok untuk bibliographic coupling & co-citationFormat standar bibliografi, kompatibel lintas aplikasi, mudah dipertukarkanMetadata kadang tidak lengkap; kurang fleksibel untuk custom data
XLS/XLSXExcel Spreadsheet → format milik Microsoft untuk data tabularDigunakan untuk data hasil olahan manual peneliti; cocok untuk custom networks (misalnya daftar kata kunci atau hubungan antar entitas)Mudah diedit, familiar bagi banyak pengguna, mendukung customisasiLebih berat dibanding CSV; perlu konsistensi format tabel
TXTPlain Text File → format dasar komputer sejak awal sistem operasiDigunakan untuk input sederhana seperti daftar kata kunci atau publikasi; biasanya dari database yang hanya menyediakan teksRingkas, ringan, mudah dibuatTidak mendukung struktur tabular kompleks; terbatas untuk analisis sederhana
Scopus/WoS/PubMed ExportFormat khusus tiap database: .csv (Scopus), .txt (WoS), .nbib (PubMed)Digunakan untuk analisis lengkap: citation, co-authorship, keyword co-occurrence; langsung dikenali VOSviewerData kaya, terstruktur, langsung kompatibelFormat berbeda tiap database; keterbatasan akses (WoS berbayar, PubMed terbatas sitasi)
JSON VOSviewerJavaScript Object Notation → format ringan untuk data terstruktur, populer di webDigunakan untuk menyimpan peta & jaringan hasil analisis; bisa dibagikan online atau diintegrasikan dengan aplikasi webMendukung visualisasi interaktif, mudah dibagikanLebih teknis; tidak semua pengguna terbiasa mengolah JSON

Penjelasan Penggunaan Lebih Rinci

  • CSV → paling umum digunakan karena fleksibel; misalnya ekspor data sitasi dari Scopus lalu dianalisis untuk melihat jaringan co-authorship.
  • RIS → biasanya digunakan jika data berasal dari reference manager; misalnya daftar artikel dari Zotero untuk analisis co-citation.
  • XLS/XLSX → dipakai jika peneliti ingin membuat data custom; misalnya jaringan kata kunci yang disusun manual.
  • TXT → dipakai untuk input sederhana; misalnya daftar kata kunci dari database kecil.
  • Ekspor Scopus/WoS/PubMed → pilihan terbaik untuk analisis standar karena langsung dikenali VOSviewer tanpa perlu konversi.
  • JSON → lebih ke penyimpanan hasil analisis, bukan input; berguna untuk berbagi peta bibliometrik secara interaktif.

Langkah-Langkah Alur Kerja

  1. Ekspor Data dari Scopus
    • Masuk ke Scopus → lakukan pencarian artikel sesuai topik.
    • Pilih Export → format CSV → sertakan metadata (judul, penulis, afiliasi, kata kunci, sitasi).
    • Hasil: file scopus_export.csv.
  2. Preprocessing di Excel
    • Buka file CSV di Excel.
    • Bersihkan data: hapus duplikasi, periksa konsistensi nama penulis, normalisasi kata kunci.
    • Simpan kembali sebagai cleaned_data.csv.
  3. Import ke VOSviewer
    • Buka VOSviewer → pilih Create Map Based on Bibliographic Data.
    • Pilih file cleaned_data.csv.
    • Tentukan jenis analisis: misalnya Co-authorship (penulis), Co-occurrence (kata kunci), atau Citation Analysis.
    • VOSviewer akan menghasilkan peta jaringan interaktif.
  4. Analisis Jaringan
    • Gunakan fitur clustering untuk melihat kelompok penulis atau topik.
    • Atur visualisasi (warna, ukuran node, label).
    • Interpretasi: misalnya, terlihat kelompok riset dominan dalam bidang tertentu.
  5. Ekspor Hasil ke JSON
    • Simpan hasil peta dalam format JSON.
    • File ini bisa dibagikan atau diunggah ke web untuk visualisasi interaktif.
    • Contoh: network_map.json.

Manfaat Alur Kerja

  • CSV dari Scopus → kaya metadata, fleksibel untuk analisis.
  • Excel preprocessing → memastikan data bersih & konsisten.
  • VOSviewer → menghasilkan peta visual interaktif.
  • JSON output → mudah dibagikan & dipublikasikan online.