Oleh: Maryono
Jurnal yang telah terindeks Scopus, dalam perkembangannya dapat kehilangan status indeksnya atau di-“discontinue” karena tidak lagi memenuhi standar kualitas dan integritas yang terus-menerus dievaluasi oleh tim Content Selection and Advisory Board (CSAB). Pada dasarnya, proses ini adalah bentuk “quality control” berkelanjutan untuk menjaga reputasi database Scopus
Berikut adalah rincian penyebab utamanya:
1. Publication Concern (Kekhawatiran terhadap Proses Publikasi)
Ini merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan jurnal di-discontinue. Data menunjukkan sekitar 59.7% jurnal yang dicabut indeksnya bermasalah di area ini . Indikatornya meliputi:
- Rekrutmen Editor Tidak Profesional: Mengikutsertakan editor tanpa keahlian yang sesuai atau melibatkan “editor bayaran”.
- Peer Review Tidak Transparan atau Bermasalah: Proses review yang tidak jelas, asal-asalan, atau bahkan tidak dilakukan.
- Pelanggaran Etika Publikasi: Tidak menangani masalah seperti plagiarisme, konflik kepentingan, atau pemalsuan data dengan serius.
2. Outlier Behaviour (Perilaku Publikasi yang Tidak Wajar)
Scopus menggunakan ilmu data untuk mendeteksi anomali atau keanehan dalam perilaku publikasi jurnal. Faktor ini berkontribusi pada sekitar 14.5% kasus penghapusan indeks. Contoh perilaku yang mencurigakan adalah:
Ledakan Publikasi (Publication Burst): Tiba-tiba menerbitkan artikel dalam jumlah sangat besar (ratusan atau ribuan) dalam satu edisi, sementara sebelumnya hanya menerbitkan puluhan artikel. Ini seringkali merupakan indikasi praktik “paper mill” atau penerbitan masal demi keuntungan finansial.
Praktik Sitasi Tidak Wajar (Citation Stacking/Cartels): Terdapat pola sitasi yang berlebihan dan tidak wajar antar jurnal atau dalam satu kelompok penulis tertentu untuk menaikkan metrik secara artifisial
3. Penurunan Kualitas Konten dan Standar Ilmiah
Setelah terindeks, sebuah jurnal harus secara konsisten mempertahankan kualitas ilmiahnya. Jika tim kurasi Scopus menemukan penurunan standar yang signifikan, jurnal tersebut akan ditinjau ulang. Indikatornya antara lain:
Kualitas Bahasa Inggris Buruk: Tata bahasa yang tidak standar menunjukkan lemahnya proses editorial
Ketidaksesuaian dengan Fokus dan Ruang Lingkup (Aim & Scope): Banyak artikel yang diterbitkan tidak lagi relevan atau menyimpang dari fokus awal jurnal
Kontribusi Ilmiah Rendah: Artikel yang diterbitkan dinilai tidak memiliki kebaruan (novelty), kontribusi teoretis yang kecil, atau kualitas akademis secara umum rendah
4. Masalah Keragaman dan Representasi Internasional
Sebagai database internasional, Scopus mengharapkan jurnal memiliki cakupan global. Kekurangan dalam aspek ini dapat menyebabkan penolakan saat evaluasi ulang
Keragaman Penulis Terbatas: Penulis artikel mayoritas berasal dari satu negara, meskipun jurnal mengklaim diri sebagai “jurnal internasional”
Komposisi Dewan Editor Homogen: Dewan editor didominasi oleh peneliti dari satu afiliasi atau satu negara, dan kurang melibatkan pakar internasional dari berbagai benua
Kurangnya Representasi Internasional: Jurnal tidak berhasil menarik minat penulis, pembaca, atau kontribusi dari komunitas ilmiah global.
5. Metrik yang Menurun atau Rendah (Metrics)
Meskipun bukan satu-satunya penentu, kinerja metrik jurnal terus dipantau
Jumlah Sitasi Rendah: Secara keseluruhan, artikel dalam jurnal tersebut jarang disitasi oleh peneliti lain, menunjukkan rendahnya dampak atau relevansi ilmiah
Penurunan Metrik Drastis: Terjadi penurunan signifikan pada skor seperti SJR, CiteScore, atau SNIP dalam periode waktu tertentu
Peringatan Tambahan: “On Hold”
Sebelum benar-benar di-discontinue, jurnal yang terindikasi bermasalah biasanya akan ditempatkan dalam status “On Hold” (atau “Re-evaluation”) oleh Scopus.
Apa yang terjadi? Selama masa ini, Scopus berhenti mengindeks artikel baru dari jurnal tersebut sambil melakukan evaluasi ulang oleh CSAB
Hasilnya: Jika evaluasi gagal, statusnya akan resmi menjadi “Discontinued” dan tidak ada artikel baru yang akan diindeks. Jika lulus, indeksasi akan dilanjutkan. Ini adalah “lampu kuning” yang sangat penting untuk diwaspadai peneliti.
Daftar pustaka
Laksana, Eko Pramudya dkk. 2026. The Scopus Radar Readiness Model for Mitigating Algorithmic Discontinuation Risks. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan,6(3), 2026, 3. https://doi.org/10.17977/um065.v6.i3.2026.3.
Risdianto, Faizal. 2025. 10 Alasan Jurnal Ditolak Aplikasinya oleh Team CSAB SCOPUS. https://forum.relawanjurnal.id/viewtopic.php?f=13&t=1873
